الاثنين، 11 يوليو، 2011

Berbuat baik kepada kedua orang tua

  
Khutbah Jumat, 13 Rabiul Awwal 1432 H / 18 Maret 2011 M
Berbuat baik kepada kedua orang tua
Khutbah Pertama

الحمدُ للهِ مِنَّةً وإِنْعاماً، أَمَرَ ببِرِّ الوالِدَيْنِ شُكراً وعِرفاناً، وأَشهدُ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شَريكَ لَهُ الْقائِلُ:﴿ وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً﴾[1] وأَشهدُ أنَّ سيِّدَنا محمداً عَبدُ اللهِ ورسولُهُ تصديقاً واتباعاً، اللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ، ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
عبادَ اللهِ: أُوصيكُمْ ونفسِي بتقوَى اللهِ جلَّ وعلاَ:] يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُواْ اللَّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[([2])

Kaum muslimin : ketahuilah bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan salah satu kewajiban agama dan dasar keimanan, Allah Swt menggandengkan antara ibadah kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah Swt berfirman : "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak (An Nisa’ 36). Berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan akhlak para nabi, Allah memuji nabi Yahya AS dalam firman-Nya karena baktinya kepada kedua orang tuanya : "dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. (Maryam 14). Begitu juga pujian ini dialamatkan kepada Nabi Isa AS, firman-Nya : "dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. (Maryam 32).

Kaum mukminin : sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua merupakan sunnah yang tidak berubah dan tidak berganti, ia termasuk ketaatan yang paling besar, pendekatan kepada Allah yang paling agung, penyebab cinta Allah kepada hamba-Nya, penyebab sayang manusia kepadanya, dapat mengangkat derajat didunia dan akhirat, dan ia menjadi penyebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits Rasulullah Saw : “Barang siapa yang mau dipanjangkan umurnya dan ditambah rezekinya maka hendaknya ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambung tali silaturrahimnya”(Ahmad 14164)

Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya baktimu kepada kedua orang tuamu menjamin bakti anakmu kepadamu, dari Ibnu Umar RA berkata : Rasulullah Saw bersabda : ”Berbaktilah kalian kepada orang tua kalian, maka anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian" (At Thabrani (Al Awsath 1/299). Dan sesungguhnya andaikata pada bakti kepada kedua orang tua tidak ada kebaikannya, hanya saja pintu surga dan kenikmatan didalamnya cukup menjadi keutamaan terhadap perbuatan berbakti, dari Aisyah RA berkata : Rasulullah Saw bersabda : "Aku tertidur lalu aku melihat diriku berada di surga dan aku mendengar seseorang yang membaca, maka aku bertanya : siapakah ini ? mereka menjawab : ini adalah Haritsah bin An Nu'man. Rasulullah Saw bersabda : begitulah bakti, begitulah bakti". Dan ia (Haritsah bin Nu'man) termasuk orang yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. (Ahmad 25926). Maka perhatikanlah kalian betapa bakti kepada kedua orang tua telah membawa pelakunya masuk ke dalam surga.


Hamba Allah : sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua merupakan system kehidupan yang sempurna yang mencakup semua ragam kebaikan, kemakrufan dan kebajikan, bakti itu dapat berbentuk : memberi nafkah keduanya, berbicara dengan baik kepada keduanya, tawadhu' kepada keduanya, taat dan tidak berbicara lantang dihadapan keduanya, tidak menampakkan kemarahan kita dihadapan keduanya walaupun hanya dengan ungkapan ah, dan perbuatan lainnya yang mengandung arti penghormatan, pengagungan dan penghargaan terhadap keduanya, Allah Swt berfirman : " Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al Isra’ 23-24)

Kaum muslimin : barang siapa yang teledor dalam berbakti kepada kedua orang tuanya atau kepada salah satu dari keduanya, maka segeralah menyadari dan segera menyambung hubungan antaranya dan antara keduanya, dengan menunaikan hak-hak keduanya, terutama berterima kasih kepada keduanya atas lelah dan beban yang ditanggungnya demi anaknya, Allah Swt berfirman : "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, (Luqman 14)


Berterima kasih dan berbakti kepada keduanya dimasa hidup keduanya dapat berbentuk dengan menambah perbuatan baik kepada keduanya, atau dengan mengakui keteledorannya dalam menepati hak-hak keduanya bila ia memang seorang yang telah berlaku teledor. Dan bentuk bakti setelah keduanya wafat adalah dengan doa dan beristighfar untuk keduanya, menyambung silaturrahim keduanya, menghormati sahabat keduanya, melaksanakan wasiat kedaunya, menyebut kebaikan keduanya, melaksanakan amalan shaleh yang manfaat dan pahalanya dapat sampai untuk keduanya setelah keduanya wafat, seperti membangun masjid, menyediakan air minum, waqaf dan sedekah jariah lainnya yang pahala dan balasannya terus mengalir dengan izin Allah. Seorang dari Bani Salamah bertanya : wahai Rasulullah, apakah masih tersisa bakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya meninggal ? Beliau menjawab : ya, mendoakan keduanya, beristighfar untuk keduanya, menepati janji keduanya setelah keduanya wafat, menyambung silaturrahim untuk keduanya dan menghormati sahabat keduanya" (Abu Daud 5142)

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita, dan semoga kita mendapatkan kehormatan disebabkan ridha dan cinta keduanya, dan semoga Allah memberikan kita taufiq untuk mentaati-Nya dan mentaati orang yang diperintahkan untuk ditaatinya, sebagai pengamalan firman-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisa’ 59).

نفعَنِي اللهُ وإياكُمْ بالقرآنِ العظيمِ وبِسنةِ نبيهِ الكريمِ صلى الله عليه وسلم
أقولُ قولِي هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي ولكُمْ.



Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ ربِّ العالمينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَه، وأَشْهَدُ أنَّ سيِّدَنا محمَّداً عبدُهُ ورسولُهُ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ الطيبينَ الطاهرينَ وعلَى أصحابِهِ أجمعينَ، والتَّابعينَ لَهُمْ بإحسانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Kaum mukmin bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan orang tua kalian dimasa hidup dan setelah wafat mereka, tunaikan hak-hak mereka maka kalian akan mendapatkan kemenangan, berlakulah baik kepada mereka maka kalian akan sukses dan selamat, berbaktilah kepada mereka maka kalian akan beruntung, minta ridha mereka maka kalian akan mendapat ridha Allah dan surga-Nya, dari Abu Hurairah RA berkata : Rasulullah Saw bersabda : “Semoga terhina, semoga terhina, semoga terhina, dikatakan : siapa wahai Rasululllah ? Beliau menjawab : orang yang mendapati kedua orang tuanya telah tua salah satunya atau keduanya tapi dia tidak bisa masuk surga (Muslim 2551).

عبادَ اللهِ: إنَّ اللهَ أمرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فيهِ بنفْسِهِ وَثَنَّى فيهِ بملائكَتِهِ فقَالَ
تَعَالَى:
]إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[([3]) وقالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:« مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً»([4]) اللهمَّ إنَّا نسألُكَ أَنْ تجعلَ صلواتِكَ وتسليماتِكَ وبركاتِكَ علَى حبيبِكَ ورسولِكَ سيدِنَا محمدٍ، وعلَى آلِهِ الأطهارِ الطيبينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وعَنْ سائرِ الصحابِةِ الأكرمينَ، وعَنِ التابعينَ ومَنْ تبعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدينِ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاهَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا، اللهمَّ إنَّا نسألُكَ صِحَّةً فِي إِيمَانٍ، وَإِيمَانًا فِي خُلُقٍ حَسَنٍ، وَنَجَاحًا يَتْبَعُهُ فَلاَحٌ، وَرَحْمَةً مِنْكَ وَعَافِيَةً، وَمَغْفِرَةً مِنْكَ وَرِضْوَانًا، اللهمَّ حبِّبْ إلينَا الإيمانَ وزيِّنْهُ فِي قلوبِنَا، واجعلْنَا مِنَ الراشدينَ، اللهمَّ إنَّا نَسألُكَ مِمَّا سَألَكَ منهُ سيدُنَا مُحمدٌ صلى الله عليه وسلم ونَعُوذُ بِكَ مِمَّا تَعوَّذَ مِنْهُ سيدُنَا مُحمدٌ صلى الله عليه وسلم اللَّهُمَّ اشفِ مَرْضَانَا ومرضَى المسلمينَ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الشَّيْخ زَايِد، والشَّيْخ مَكْتُوم، وإخوانَهُمَا شيوخَ الإماراتِ الذينَ انتقلُوا إلَى رحمتِكَ، اللَّهُمَّ اشْمَلْ بعفوِكَ وغفرانِكَ ورحمتِكَ آباءَنَا وأمهاتِنَا وجميعَ أرحامِنَا ومَنْ كانَ لهُ فضلٌ علينَا، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا رَئِيسَ الدولةِ، الشَّيْخ خليفة بن زايد([5]) وَنَائِبَهُ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَأَيِّدْ إِخْوَانَهُ حُكَّامَ الإِمَارَاتِ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الأَمِينَ، اللَّهُمَّ اسقِنَا الغيثَ ولاَ تجعَلْنَا مِنَ القانطينَ، اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَى دولةِ الإماراتِ الأَمْنَ والأَمَانَ وَعلَى سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشكرُوهُ علَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[([6]).





([1]) الأحقاف: 15            

([2]) النساء : 1.
([3]) الأحزاب : 56 .
([4]) مسلم : 384.
([5]) تلفظ بالتسكين.
([6]) العنكبوت :45.

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق